Baca Juga

Tampilkan postingan dengan label Astronomi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Astronomi. Tampilkan semua postingan

Rabu, 23 Februari 2011

Video Menakjubkan Padatnya Asteroid di Langit

Tak hanya Bumi yang makin dipadati miliaran manusia, tapi juga tata surya kita. Bedanya, langit makin dipadati asteroid. 

Peta menarik penuh warna mendokumentasikan pertumbuhan asteroid selama 30 tahun. Mengilustrasilkan bagaimana kita sebaiknya makin waspada dengan asteroid yang terbang dekat dengan Bumi, sebagai hasil peningkatan kecanggihan teleskop. 

Tak hanya gambar, sebuah video juga merekam penemuan asteroid baru lebih dari tiga dekade, juga grafik peta yang menunjukkan makin padatnya asteroid di tata surya kita. 

Peta dan video tersebut dibuat oleh astronom Inggris, Scott Manley. Klip video itu berdurasi tiga menit, di mana satu detik setara dengan penampakan asteroid selama dua bulan. 

Klip dimulai dengan taburan debu putih di sekitar tepi planet.


http://unik13.info/wp-content/uploads/2010/08/asteroid-51.jpg

Tahun berganti tahun, dengan makin canggihnya teleskop yang ada, juga eksperimen dan metode deteksi yang mutakhir, taburan debu putih itu menjadi cincin hijau padat yang menunjukkan bertambah padatnya sabuk asteroid karena makin banyaknya asteroid atau 'planet minor' yang ditemukan.

http://unik13.info/wp-content/uploads/2010/08/asteroid-31.jpg

Yang mengkhawatirkan, titik-titik merah menunjukkan asteroid-asteroid yang terbang melayang di dalam orbit Bumi. Cuplikan video bahkan menunjukkan, beberapa di antaranya terlihat dalam jarak yang membahayakan Bumi.

Warna terakhir lingkaran asteroid dalam video tersebut mengindikasikan, betapa dekat asteroid-asteroid menuju tata surya.

http://unik13.info/wp-content/uploads/2010/08/asteroid-41.jpg

Manley menciptakan peta ini dari tahun 1980-2010 yang menggambarkan setiap asteroid yang terlacak teleskop. 

Tiga puluh tahun lalu, kita hanya tahu ada sekitar 8.954 asteroid di tata surya kita. Saat ini, kita telah menemukan berkali lipat, jumlahnya diperkirakan 530.091 asteroid yang menyatu menyerupai 'mata' berwarna hijau.

http://unik13.info/wp-content/uploads/2010/08/asteroid-11.jpg

Manley, mantan mahasiswa riset di Armagh Observatory, Irlandia Utara mengatakan, citra yang dibuatnya menggunakan orbit asteroid yang diketahui untuk menunjukkan keberadaan asteroid dari hari ke hari. 

"Sama seperti kita mencari tahu di mana letak Bumi, Mars, dan Venus, kita bisa melakukan hal yang sama untuk mencari tahu lokasi apapun yang mengorbit Matahari."

"Aku membuat peta ini tiap hari selama 30 tahun, ada sekitar 11.000 gambar. Lalu aku menggabungkannya dalam bentuk video," kata Manley. 

Asteroid yang ukurannya lebih kecil dari planet juga mengorbit Matahari. 

Ukuran mereka, yang besar, berkisar dari puluhan meter sampai yang terbesar  yang telah diketahui 950 kilometer yakni Asteroid Ceres.

Ada juga asteroid kecil, dengan diameter 5-10 meter sering nyelonong masuk Bumi, namun kebanyakan meledak di atmosfer. 

Sementara, asteroid yang lebih besar, sekitar 1 km menabrak Bumi sekitar 500.000 tahun sekali.

http://unik13.info/wp-content/uploads/2010/08/asteroid-21.jpg

Tapi walaupun beberapa asteroid pada tampilan peta Manley jaraknya sangat dekat dan berbahaya dengan Bumi, itu bukan berarti akan menubruk Bumi. Gambar itu nampak sangat dekat karena skalanya besar.


"Satu pixel di dalam layar bisa berjarak 1 juta kilometer. Bahkan, jika sebuah asteroid muncul tepat di atas Bumi, jaraknya bisa sampai sejuta kilometer. Itu bisa dua kali lipat jarak Bumi ke Bulan.

Sumber :
dunia.vivanews.com
READ MORE - Video Menakjubkan Padatnya Asteroid di Langit

Astronom Temukan Calon Planet Baru di Balik Pluto


Bertahun-tahun lalu, di sekolah kita diajarkan bahwa tata surya terdiri dari Matahari dan 9 buah planet. Akan tetapi, sejak diluncurkannya berbagai teleskop, pesawat, dan satelit, ruang angkasa menjadi lebih kompleks.

Saat Pluto didegradasi statusnya dari planet menjadi planet kerdil, lima tahun lalu, kita cukup terkejut. Tata surya tinggal dihuni 8 planet. Bagan dan model tata surya yang dipasang di ruang kelas di seluruh dunia harus diubah. Buku pelajaran harus ditulis ulang.

Namun, kini ilmuwan memiliki bukti-bukti kuat bahwa ada planet ke 9 berotasi di belakang Pluto. Dan planet ini ukurannya cukup besar.

Dari bukti-bukti yang ditangkap oleh teleskop ruang angkasa Wise milik NASA, planet raksasa ini tersembunyi di balik Oort Cloud, piringan awan yang terdiri dari benda-benda angkasa yang berada di titik terjauh sistem tata surya.

Oleh Daniel Whitmire dan John Matese, astrofisikawan dari University of Louisiana at Lafayette, Amerika Serikat, benda langit yang sedang diajukan untuk mendapat status ‘planet’ tersebut diberi nama Tyche. “Data-data awal seputar Tyche akan dipublikasikan April mendatang,” kata Whitmire, seperti dikutip dari Time, 16 Februari 2011.
“Setelah itu, planet tersebut kemungkinan akan mengungkapkan dirinya sendiri dalam dua tahun ke depan,” ucapnya.

Whitmire menyebutkan, setelah lokasi Tyche berhasil dipastikan,  terserah pada International Astronomical Union (IAU) untuk menentukan apakah Tyche akan mendapat status planet secara penuh.

“Yang jadi masalah bagi IAU untuk meloloskan status planet adalah, kemungkinan besar Tyche terbentuk dari bintang lain,” kata Whitmire. “Ia kemudian ditarik oleh gaya gravitasi milik Matahari dan membuatnya berotasi pada sistem tata surya kita,” ucapnya.

Sebagai informasi, Tyche diperkirakan memiliki ukuran 4 kali lebih besar dibanding Jupiter dan mengorbit pada jarak 15 ribu kali lebih jauh dibanding jarak Bumi dan Matahari atau 375 kali lebih jauh dibandingkan dengan jarak Pluto dengan Matahari.

Kemungkinan, Tyche terdiri dari hidrogen dan helium dan memiliki atmosfir dan punya beberapa bulan seperti milik Jupiter. “Data dari Wise mengungkapkan bahwa Tyche empat sampai lima kali lebih panas dibanding Pluto, yakni mencapai -73 derajat Celcius.

“Panas tersebut merupakan sisa-sisa suhu dari proses pembentukannya,” kata Whitmire. “Obyek langit sebesar ini membutuhkan waktu yang panjang untuk menjadi dingin,” ucapnya.
Sumber :
READ MORE - Astronom Temukan Calon Planet Baru di Balik Pluto

Letusan Matahari Membawa Berkah

Radiasi Matahari menyapu sinar kosmik energi
ultra tinggi yang hadir dari luar tata surya
Meski dramatis, letusan dahsyat Matahari pada 14 Februari lalu ternyata tidak sampai memaksa astronot di Internal Space Station untuk lari berlindung. Malah, tampaknya letusan matahari itu membantu menurunkan dosis radiasi yang diterima astronot.

Letusan yang terjadi tersebut, yang merupakan letusan terbesar selama empat tahun terakhir, mengirimkan gelombang radiasi besar dan partikel yang bergerak cepat ke arah Bumi. Setelah letusan itu, Matahari tetap aktif. Bahkan empat hari kemudian, ia kembali melontarkan lidah api besar.

Beruntung, stasiun ruang angkasa ISS berada di jarak 354 kilometer di atas permukaan laut. Ia masih dilindungi medan magnet pelindung milik Bumi yang melindungi dari badai luar angkasa pada umumnya.

“Jika astronot tetap berada di dalam stasiun ruang angkasa, ia tidak dalam bahaya,” kata Frank Cucinotta, Chief Scientist of Space Radiation Program, NASA, seperti dikutip dari Space, 22 Februari 2011. “Bahkan radiasi dari letusan matahari itu membawa berkah,” ucapnya.

Cucinotta menyebutkan, yang jauh lebih mengkhawatirkan bagi astronot justru adalah sinar kosmik galaksi yang datang dari tempat lain. “Gelombang radiasi dan partikel dari Matahari justru menyapu sejumlah sinar kosmik dengan energi ultra tinggi yang datang dari luar sistem tata surya,” ucapnya.

Sebagai informasi, sinar kosmik yang beredar umumnya terdiri dari proton berenergi tinggi yang dilahirkan oleh ledakan supernova dan kejadian dramatis lain yang terjadi di seluruh penjuru alam semesta. Gelombang ini terus menerus membanjiri tata surya kita dari jauh, dan mereka jauh lebih sulit diatasi dibandingkan dengan radiasi dari Matahari kita.

Atmosfir Bumi mampu melemahkan sinar kosmik, sehingga astronot menerima dosis radiasi jauh lebih tinggi dibanding mereka yang tinggal di bumi. Partikel yang bergerak dalam kecepatan tinggi bisa memasuki kulit dan daging manusia, menghantam sel tubuh dan merusak DNA. Sejalan dengan waktu, manusia yang terimbas radiasi secara terus menerus berpotensi terkena kanker dan masalah kesehatan lain.

Namun demikian, badai Matahari yang terjadi pekan lalu justru mereduksi eksposur terhadap radias kosmik. “Gelombang magnetik milik Bumi mampu memantulkan partikel kosmik,” kata Cucinotta. “Sehingga, saat radiasi Matahari tiba di Bumi, ia menyapu banyak sinar kosmik yang berada di hadapannya,” ucapnya.

Fenomena ini disebut sebagai “Forbush decrease” dan pernah terjadi di tahun 2005 lalu. Ketika itu, radiasi sinar kosmik dari penjuru alam semesta berhasil disapu oleh gelombang radiasi dari Matahari hingga berkurang sekitar 30 persen.

Artinya, meski badai yang terjadi di Matahari berpotensi merusak, misalnya mengganggu infrastruktur listrik dan komunikasi di seluruh dunia, dahsyatnya kekuatan radiasi itu juga membawa berkah yakni membuat gelombang pelindung bagi astronot yang berada di ratusan kilometer di atas Bumi.



Sumber :
teknologi.vivanews.com
READ MORE - Letusan Matahari Membawa Berkah

Mungkinkah Kita Keturunan Luar Angkasa?

Konsep bercinta di luar angkasa tengah marak dibicarakan. Apalagi, jika suatu saat nanti manusia harus meninggalkan Bumi karena sudah tidak layak untuk dihuni, kita tetap perlu menghasilkan keturunan. Bahkan saat kita sedang dalam perjalanan menuju tempat tinggal yang baru itu.

Akan tetapi, sejauh mana peluang untuk mendapatkan keturunan saat manusia telah meninggalkan planet bumi ini?

Dari penelitian yang dilakukan sejumlah ahli, tampaknya hal tersebut sulit terjadi. Pasalnya, ruang angkasa sendiri sebenarnya merupakan sebuah sistem kontrasepsi yang sangat besar.

Hasil penelitian khusus seputar seks di ruang angkasa menyimpulkan bahwa radiasi kosmik akan membombardir tubuh manusia dengan kuantitas yang besar selama perjalanan di luar angkasa. Selain itu, tinggal di Mars, misalnya, dalam waktu yang lama akan menurunkan jumlah sel sperma.

Janin yang sudah terbentuk tidak akan berkembang secara sempurna di lingkungan ruang angkasa. Meski saat ini ruang di pesawat angkut telah dilengkapi dengan pelindung radiasi yang lebih baik, tetap saja itu tidak cukup untuk melindungi zigot untuk berkembang.

Jika bayi berhasil keluar dari kandungan, peluang bayi itu mengalami cacat yang diakibatkan oleh radiasi sangat besar.

Dan masalah tidak hanya sampai di situ. Dari penelitian terhadap hewan yang dikirim ke luar angkasa, imbas radiasi bisa membunuh sel telur pada janin. Bayi akan terlahir dalam kondisi mandul. Artinya, itu akan mempersulit umat manusia berkembang di planet baru itu nantinya.

Menurut Richard Jennings, pakar medis ruang angkasa asalh University of Texas, astronot memang terbukti tetap mampu membuahi pasangannya setelah ia kembali ke Bumi. Akan tetapi, perlu dilakukan penelitian lebih lanjut terhadap astronot yang menunaikan misi di luar angkasa dalam periode waktu lebih lama.

Dari sisi teknis, masih ada tantangan bagi manusia yang ingin menunaikan tugasnya di luar angkasa. Kostum ruang angkasa saat ini cukup berat dan tidak menyediakan banyak kemudahan untuk bercinta. Sayangnya, manusia tetap perlu menggunakan pakaian khusus.

Alasannya, dalam kondisi tanpa gravitasi, keringan atau cairan lain yang keluar dari tubuh berpotensi dapat merusak perangkat elektronik pesawat. Apalagi ditambah dengan kenyataan bahwa manusia lebih berkeringat saat di luar angkasa.

Beberapa pakar melontarkan ide untuk membuat ‘ruang intim’ yang dipenuhi dengan titik-titik air dingin atau minyak beraroma pada pesawat luar angkasa agar turis yang melancong ke luar Bumi dapat meningkatkan hasrat bercinta mereka.

Namun demikian, tetap saja ada hambatan lain yang telah disiapkan ruang angkasa. Mekanisme tubuh manusia tidak memungkinkan itu terjadi. Sebagai informasi, gravitasi mikro atau tanpa gravitasi menurunkan tekanan darah manusia. Akibatnya, penis pria tidak akan dapat ereksi secara penuh.

Jika manusia ingin mendiami planet lain, antariksawan harus melakukan perubahan besar-besaran pada pesawat ruang angkasa agar penjelajah di masa depan bisa bertahan lebih lama di luar angkasa dan mampu menunaikan tugas alaminya.



Sumber :
teknologi.vivanews.com
READ MORE - Mungkinkah Kita Keturunan Luar Angkasa?

Senin, 24 Januari 2011

Meteorit Hoba, Meteorit Terbesar yang Pernah Ditemukan Di Bumi Saat Ini

Meteorit Hoba terletak di peternakan "Hoba West", tidak jauh dari Grootfontein, di Wilayah Otjozondjupa Namibia.
Meteorit ini ditemukan oleh petani Jacobus Hermanus Brits saat mengolah salah satu bidang pertaniannya, tahun 1920 ketika ia membajak dengan lembu tanpa sengaja bajaknya tersangkut. 
Meteorit segera digali, namun karena bentuknya begitu besar (sekitar 60 ton), jadi  tidak pernah dipindahkan. Meteorit Hoba adalah meteorit terbesar yang pernah diketemukan di bumi, sebagian besar mengandung besi alami.


Meteorit Hoba diperkirakan telah mendarat kurang dari 80.000 tahun yang lalu. Anehnya, meteorit ini tidak meninggalkan kawah.
Hal ini dispekulasikan bahwa meteorit itu memasuki atmosfer bumi pada sudut yang sangat dangkal, diperlambat oleh kondisi atmosfir sekitar ke titik jatuh ke permukaan pada kecepatan terminal, sehingga tersisa utuh dan menyebabkan sedikit bekas. 
Meteorit ini berukuran 8 kaki 9 inchi. Pada tahun 1920, berat meteorit diperkirakan 66 ton. Erosi, sampling ilmiah dan vandalisme telah mengurangi berat meteorit selama bertahun-tahun menjadi 60 ton. Tanda gergaji besi dapat dikenali dengan mudah di banyak tempat di permukaan meteorit.
Dalam upaya untuk mengendalikan vandalisme, meteorit Hoba dinyatakan sebagai Monumen Nasional pada tahun 1955. Namun, perusakan meteorit terus terjadi sampai Foundation Rössing mendanai restorasi secara menyeluruh dan pelestarian meteorit itu pada tahun 1988.  
Di tahun itu, pusat wisata itu dibuka di situs Meteorit berada. Untuk biaya masuk yang kecil, Hoba dapat dikunjungi, disentuh dan bahkan dinaiki untuk pemotretan foto spektakuler. Meteorit Hoba sekarang dikunjungi ribuan wisatawan setiap tahun.







Kondisi Hoba Sebelum Restorasi



Sekelompok ahli geologi Jerman di Hoba, kembali pada tahun 1929


Awal perjalanan mengunjungi Hoba terkena meteorit, sekitar 1955


1960 Meteorit Hoba: Foto sebelum pelestarian, 1960

Sumber : Berbagai Sumber
READ MORE - Meteorit Hoba, Meteorit Terbesar yang Pernah Ditemukan Di Bumi Saat Ini

Rabu, 19 Januari 2011

WASP-33b, Planet Terpanas yang Lebih Panas Dari Beberapa Bintang

Astronom yang terlibat dalam proyek Super Wide Angle Search for Planets (SuperWASP) telah menemukan planet terpanas bernama WASP-33b. Suhu planet tersebut lebih panas dari suhu beberapa bintang.
http://stat.k.kidsklik.com/data/photo/2011/01/19/1428533620X310.jpg
Keberadaan planet itu telah diduga sejak tahun 2006 lalu namun baru dikonfirmasi tahun 2010 kemarin. Diketahui, planet tersebut tergolong dalam jenis planet gas dengan massa kurang dari 4,5 kali massa Jupiter.
Berdasarkan observasi dengan William Herschel Telescope, suhu WASP-33b mencapai 3200 derajat Celsius. Suhu itu lebih panas daripada bintang katai merah yang bersuhu 700 derajat Celsius dan WASP-12b yang suhunya 2300 derajat Celsius.
Salah satu penyebab panasnya suhu planet itu adalah suhu bintang induknya yang juga panas. Astronom mengatakan, suhu bintang induk planet itu adalah 7160 derajat Celsius, lebih tinggi dari suhu matahari yang hanya 5600 derajat Celsius.
Sementara, sebab lain adalah kedekatan jarak orbit WASP-33b dengan bintang induknya. Dengan jarak hanya 7 persen dari jarak Merkurius-Matahari, planet ini seakan menjadi "ketularan" panas bintang induknya.
Studi tentang planet ini dipimpin oleh Alexis Smith dari Universitas Keele di Stafordshire, Inggris. Lewat studi ini, astronom juga mengetahui bahwa waktu revolusi planet ini sangat singkat, hanya 29,5 jam.
Drake Demming dari Goddard Space Flight Center NASA di Greenbelt, Maryland yang tidak terlibat penelitian ini mengatakan, "WASP-33b bisa membantu astronom menelaah planet panas yang karakteristisknya masih misteri."
Hal yang bisa dipelajari misalnya adanya planet berorbit dekat dengan bintangnya yang memiliki lapisan atmosfer luar lebih dingin dari lapisan dalamnya. Ini mengejutkan karena planet tersebut "dipanaskan" dari luar.
Deming mengatakan, fakta itu bisa berkaitan dengan adanya senyawa berbasis karbon yang mengubah cara atmosfer merespon radiasi. Senyawa kimia tertentu bisa terbentuk akibat sinar ultraviolet dari bintang.
"Ini pastinya akan menjadi planet yang ingin Anda lihat. Ini adalah kesempatan yang sangat langka untuk bisa mempelajari planet yang mengorbit pada bintang yang super panas," pungkas Deming dalam interview-nya dengan New Scientist.

Sumber : Berbagai Sumber
READ MORE - WASP-33b, Planet Terpanas yang Lebih Panas Dari Beberapa Bintang

Jumat, 31 Desember 2010

Malam Tahun Baru Akan Diguyur Hujan Meteor Quadrantids


� Jika tak mendung apalagi hujan, langit malam tahun baru 2011 bakal menjadi layar pertunjukan bagi empat hujan meteor sekaligus. Hujan meteor Quadrantids akan berlangsung mulai 1 hingga 5 Januari mendatang. Tiga hujan meteor lainnya beraksi hingga 20 Januari.
http://image.tempointeraktif.com/?id=57233
Ilustrasi

Astronom dari Observatorium Bosscha, Lembang, Jawa Barat, Evan Irawan Akbar mengatakan, hujan meteor Quadrantids akan terlihat di langit sebelah timur laut. Dari garis horison, ketinggiannya sekitar 30 derajat. “Seluruh dunia termasuk Indonesia bisa menyaksikannya,” kata Evan.

Waktu terbaik menyaksikan hujan meteor Quadrantids antara pukul 01.00 hingga subuh. Pada 1-3, dan 5 Januari, diperkirakan bakal melesat 15 meteor per jam. Sedangkan pada malam puncak 4 Januari, ada 40-an meteor yang terlihat setiap jamnya. “Tapi masa puncak itu singkat, hanya 3 jam dari pukul satu dinihari,” ujarnya.

Hujan meteor Quadrantids kali ini memang tidak sederas hujan meteor lainnya. Alasannya, kata Evan, lintasan bumi berada agak jauh dari gumpalan asteroid atau komet yang menyebarkan partikelnya itu dan terlihat sebagai hujan meteor di bumi. “Ibarat mobil, bumi tidak melintas di tengah tapi di pinggir jalan,” katanya.

Bersamaan dengan hujan meteor Quadrantids, tiga hujan meteor lainnya turun secara acak. Titik arah datang tiga hujan meteor yang belum diketahui namanya itu, ujar dia, bisa datang dari mana saja. Frekuensinya relatif kecil, sekitar 10 meteor per jam.

Pengalamannya tahun lalu, seluruh keindahan hujan cahaya langit di awal tahun itu bisa disaksikan dari kampus Institut Teknologi Bandung dengan mata telanjang. Observatorium Bosscha sendiri tidak akan memantau dan merekamnya karena masalah teknis. “Selain terhalang pepohononan, teropong Bosscha dirancang untuk mengamati langit selatan,” katanya.
Sumber : Berbagai Sumber
READ MORE - Malam Tahun Baru Akan Diguyur Hujan Meteor Quadrantids

Sabtu, 18 Desember 2010

Mengapa Popeye Makan Bayam?

Siapapun pasti mengenal Popeye, tokoh kartun yang dibambarkan sebagai pelaut perkasa. Ia mendadak punya kekuatan super setiap kali menyantap sekaleng bayam. Sedemikian besarkah manfaat bayam?
http://voa-islam.com/photos/mumtaz/bayam-popeye.jpg

Sebagai sebuah karya fiksi, tentunya sah-sah saja bila dalam kartun tersebut efek makan bayam sedikit didramatisir. Popeye yang dalam kondisi normal memiliki postur kecil dan kerempeng, dalam sekejap mampu melawan Brutus, musuh utamanya yang berbadan jauh lebih besar setelah makan bayam.



READ MORE - Mengapa Popeye Makan Bayam?

Selasa, 07 Desember 2010

Tips Menyelamatkan Diri Jika Badai Matahari Terjadi

Ilmuwan NASA telah memperingatkan fenomena badai matahari yang mengakibatkan perubahan cuaca luar angkasa ini dapat berdampak bagi bumi.

"Kita tahu bahwa ini akan segera datang namun kita tidak tahu seberapa buruk hal tersebut berlangsung," ujar Dr Richard Fisher, direktur divisi Heliophysics dari NASA, kepada Daily Telegraph.

Meskipun pihak berwenang mengatahui kejadian ini semakin dekat, namun tidak dapat ditebak seberapa serius masalah tersebut. Berikut tips untuk menjaga diri dan keluarga selama badai geomagnetis yang dikutip dari Wired.


 

READ MORE - Tips Menyelamatkan Diri Jika Badai Matahari Terjadi

Embrio Calon Matahari Baru Ditemukan Di Tata Surya

Ditemukan sebuah calon bintang raksasa dengan massa yang jauh lebih besar dibandingkan Matahari. Ia kini sedang tumbuh dalam sebuah gelembung gas di tata surya ini. Embrio bintang tersebut terekam oleh teleskop Herschel milik Badan Luar Angkasa Eropa (ESA).
http://www.esa.int/images/RegionL30_70_160_250_v2_L.jpg


READ MORE - Embrio Calon Matahari Baru Ditemukan Di Tata Surya

Senin, 06 Desember 2010

Ilmuwan Teliti Kotoran Manusia untuk Bahan Bakar di Antariksa

Sebuah satelit eksperimen akan membawa misi menguji daya tahan mikroba pada kotoran manusia di luar angkasa dan apakah mikroba tersebut bisa menjadi bahan bakar.
http://resources3.news.com.au/images/2010/11/22/1225958/309299-iss-toilet.jpg
Satelit pertama milik Perserikatan Bangsa-Bangsa, UNESCOSat, akan membawa misi penting di antaranya: menguji apakah kotoran manusia bisa menjadi sumber energi di luar angkasa.


Proyek yang digarap kelompok peneliti dari Florida, Amerika Serikat, akan memfokuskan pada bakteri yang dikenal sebagai Shewanella MR-1. Bakteri tersebut diketahui bisa mengubah kotoran menjadi hidrogen sehingga bisa digunakan sebagai bahan bakar.


Salah satu cara terbaik untuk menciptakan hidrogen adalah mendorong bakteri untuk menghasilkan hidrogen dari kotoran.


Dalam salah satu misi UNESCOSat, mereka akan membawa Shewanella MR-1 yang punya spesialisasi memakan kotoran. Jika Shewanella bisa mempertahankan selera makannya di luar angkasa, PBB bisa mencari jalan agar satelit tersebut bisa memanfaatkan kotoran manusia sebagai bahan bakar.
http://innovationguy.com/wp-content/uploads/2008/03/shewanella_oneidensis_bacteria.jpg
"Bakteria tersebut menghasilkan hidrogen," ujar Direktur Program Space Science and Space Systems Program di Florida Institute of Technology, Donald Platt, seperti dikutip News.com.au.


"Jika kita memberikan kotoran ke bakteri tersebut, dia akan mengubahnya menjadi hidrogen yang bisa menjadi sel bahan bakar," lanjut Platt. "Kami akan mencari tahu apakah bakteri tersebut bisa diandalkan."


Ketahanan Shewanella akan ditentukan dari siklus kehidupannya dan perubahan pertumbuhannya di luar angkasa dibandingkan dengan di bumi.


UNESCOSat akan diluncurkan tahun depan dan dijadwalkan akan tetap mengorbit di angkasa selama lima tahun.
READ MORE - Ilmuwan Teliti Kotoran Manusia untuk Bahan Bakar di Antariksa

Sabtu, 04 Desember 2010

Matahari Terbenam di Planet Mars, Apa Warna Langitnya?

Pernah lihat matahari terbenam? Nah ini dia contoh foto keindahan matahari terbenamnya. Coba perhatikan lebih jelas, ada yang aneh atau biasa saja?
Yang tidak biasa adalah foto terbenamnya matahari ini diambil di Planet Mars, ga kalah eksotisnya kan dengan di Bumi. Foto ini diambil oleh wahana Opportunity tanggal 26 Februari 2004 di perlihatkan oleh NASA pada saat konferensi pers JPL (Jet Propulsion Laboratory).

Mungkin sebagian dari kalian masih ragu karena warna langitnya tidak merah, kenapa? Jawabannya karena memang langit di planet mars itu berwarna biru. Jadi, foto-foto yang di keluarkan NASA selama ini adalah kebohongan? Lalu pertanyaannya apakah NASA mengubah warna langit biru pada foto planet Mars ? Berikut ini sedikit penjelasannya.
Pada tahun 1976, Amerika Serikat menghabiskan jutaan dolar untuk mengirim wahana Viking Lander I ke planet Mars. Tepat pada pukul 2 siang tanggal 21 Juli 1976, Departemen Jet Propulsion Laboratory (JPL) NASA menerima foto pertama yang berhasil diambil dari Viking. Foto tersebut menunjukkan planet Mars memiliki langit berwarna biru yang indah, bukan merah seperti yang kita kenal selama ini.


Planet Merah, itulah julukan yang diberikan orang selama puluhan tahun kepada planet Mars. Hal ini dikarenakan foto-foto yang dirilis NASA menunjukkan warna merah pada hampir setiap unsur di planet itu. Mars juga digambarkan sebagai planet yang tidak ramah dengan badai debu berwarna merah. Karakteristik ini juga telah digambarkan di beberapa film science fiction seperti "total recall" dan "red planet".

Namun ternyata planet merah tidaklah semerah yang kita bayangkan.


Pada tanggal 10 Januari 2004, departemen JPL NASA yang bertanggung jawab atas wahana spirit rover menyelenggarakan konferensi pers di Pasadena, California. Pada konferensi itu, mereka menunjukkan sebuah foto Mars terbaru yang diambil oleh wahana spirit, Foto Mars dengan langit berwarna biru.
 


Foto diatas jelas berbeda dengan foto Mars yang biasa kita lihat, seperti foto yang ada dibawah ini.

Ini mengejutkan! Pada tahun-tahun sebelumnya, NASA hanya merilis foto Mars dengan langit berwarna merah. Setelah konfrensi pers JPL itu, NASA memberikan alasannya :
 

"Jika pada saat wahana mengambil foto sedang terjadi badai debu di Mars, maka foto akan menjadi merah".


Dengan pernyataan ini, NASA mengakui bahwa Mars memang memiliki langit berwarna biru seperti bumi. Namun anehnya, mengapa selama ini NASA hanya merilis foto Mars dengan langit merah? Mungkinkah ada sesuatu yang ditutup-tutupi? Dan mengapa baru tahun 2004 NASA mengungkapkan semuanya?

Menurut sebuah buku, NASA memang sengaja merahasiakan fakta tersebut. Buku yang dimaksud adalah buku yang berjudul "Dark Mission : The Secret History of NASA" karangan Richard C Hogland dan Mike Bara. Mereka menceritakan bahwa NASA dengan sengaja telah mengubah warna langit pada planet Mars.

Pada tahun 1976, ketika foto pertama Mars datang dari Viking, dunia bisa melihat melalui televisi bahwa Mars ternyata memiliki langit berwarna biru. Namun, beberapa waktu kemudian, foto resmi yang beredar adalah Mars dengan langit berwarna merah.

Menurut NASA, foto Mars yang menunjukkan langit berwarna biru adalah foto yang mengalami kesalahan filterisasi warna. Dengan kata lain, kesalahan teknis. Namun tidak demikian menurut Richard Hogland dan Mike Bara.

Menurut mereka, dua jam setelah foto pertama dari Viking tiba, seorang teknisi NASA tiba-tiba mendapat perintah dari Administrator NASA, Dr. James Fletcher, untuk menghancurkan semua negatif film yang menunjukkan langit biru pada planet Mars. Gambar-gambar yang lain kemudian diubah menjadi hampir merah total untuk menunjukkan seakan-akan tidak ada kehidupan di Mars.

Contohnya foto dibawah ini. Foto disebelah kiri adalah foto yang dirilis oleh NASA mengenai keadaan planet Mars. Pada foto tersebut terlihat warna bendera Amerika mengalami distorsi. Para peneliti kemudian memperbaiki warna foto tersebut dengan menggunakan bendera Amerika sebagai patokan. Dan hasilnya adalah foto disebelah kanan. Mars memiliki langit biru.
 

Tindakan administrator NASA yang memerintahkan penghancuran foto asli Viking I menimbulkan banyak pertanyaan. Mengapa NASA begitu ngotot menyembunyikan keberadaan langit biru tersebut dari dunia? Apakah ada sesuatu yang lain ikut terpotret pada foto yang dihancurkan tersebut?

Sayang sekali, pertanyaan ini belum terjawab hingga sekarang. Namun konon para astronom di teleskop Hubble telah lama mengobservasi bahwa Mars memang memiliki langit berwarna biru.

Walaupun begitu, beberapa ilmuwan tetap membela NASA. Menurut mereka, NASA tidak mengubah warna langit. Perbedaan warna terjadi karena proses filterisasi yang tidak sempurna pada wahana penjelajah Mars.

Ya, mungkin saja mereka benar. Namun bagi penganut teori konspirasi, tindakan NASA merahasiakan hal tersebut karena NASA ingin menutupi fakta bahwa ada kehidupan di planet Mars.

Sayang, tidak ada yang bisa mengetahui pasti kebenarannya. Namun, setelah konferensi pers JPL tahun 2004 tersebut, sepertinya NASA mulai membuka kebenaran tentang langit mars yang berwarna biru kepada publik melalui foto-foto seperti contoh diatas.
READ MORE - Matahari Terbenam di Planet Mars, Apa Warna Langitnya?

Planet Pluto, Kini Tinggal Kenangan

Kalian semua pasti sudah tahu kan, kalau Pluto sekarang sudah tidak menjadi bagian dari planet di tata surya kita ini. Tapi apakah kalian juga tahu, mulai kapan keputusan tersebut diambil dan apa yang menjadi pertimbangannya? Nah jika kalian belum tahu, berikut ini penjelasannya.
http://srafique.files.wordpress.com/2009/12/planet-pluto1.jpg

READ MORE - Planet Pluto, Kini Tinggal Kenangan

Keseimbangan Sempurna Planet Bumi

Segala komposisi penyusun bumi dan juga posisinya sangatlah seimbang dan sempurna. Jika tidak, tidak akan ada kehidupan di dunia ini. Untuk lebih jelasnya perhatikanlah semua perbandingan di bawah ini yang pastinya sangat jarang kita sadari dan menunjukkan betapa Maha Dahsyatnya karya dan perhitungan Tuhan Sang Pencipta alam semesta ini.

Gravitasi



* Jika lebih kuat: atmosfer menahan terlalu banyak amonia dan methana.
* Jika lebih lemah: atmosfer planet akan terlalu banyak kehilangan air.


READ MORE - Keseimbangan Sempurna Planet Bumi

Mungkinkah Mikroba Dari Bumi Mengkontaminasi Mars?

Apakah ada kehidupan di Mars? Pertanyaan itu seringkali muncul dalam benak manusia. Pertanyaan yang terus dicari jawabannya. Berbagai misi telah diluncurkan ke Mars. Data yang di dapat pun mulai diolah. Tapi ada sebuah pertanyaan yang juga muncul seiring pengiriman berbagai misi ke ruang angkasa tersebut.
http://whoyoucallingaskeptic.files.wordpress.com/2008/10/mars.jpg
READ MORE - Mungkinkah Mikroba Dari Bumi Mengkontaminasi Mars?

10 Cuaca Paling Ekstrim di Tata Surya

http://prayudi.blog.friendster.com/files/uncategorized-_42012422_solar_system_planets3_416.jpg
Selama beberapa dekade, astronom telah menggunakan teleskop untuk menguraikan kondisi atmosfer di planet yang jauh. Dan menyimpulkan fakta bahwa kita bersyukur telah tinggal di bumi ini.

10. Serious Lightining (Petir Terparah)


Pesawat ruang angkasa NASA Cassini telah melihat sebuah badai listrik di Saturnus yang lebih besar daripada badai listrik daratan Amerika Serikat , dengan kilatan petir yang 1.000  kali lebih kuat daripada di Bumi. 

Badai petir yang membentang 2.175 mil (3.500 kilometer) dari utara ke selatan dan memancarkan suara radio yang sama dengan yang dihasilkan di bumi.



9. Hot Crush (Panas Penghancur)




Sesuai namanya,. venus merupakan tempat terpanas di tata surya kita. dengan suhu sekitar 750 Kelvin dan memiliki tekanan 90 kali di bumi ini akan membuat setiap pengunjung akan hancur (crush). 

Ilmuwan menyebutkan bahwa hal ini terjadi karena adanya efek rumah kaca yang berlebihan dari awan sulfat yang menutupi langit-langit venus. Maka jadilah efek rumah kaca yang besar dan menyebabkan hal ini.



8. Methane Moon (Bulan Metana)


Pesawat ruang angkasa Cassini Huygens menemukan bukti kuat diantara hujan deras metana cair yang terjadi di bulan nya saturnus "Titan". Dan mungkin "air" yang ada di bulan adalah metana juga karena pada suhu dingin Titan (94 derajat Kelvin) air pun akan dikurung seperti es.



7. Scarlet Rain (Hujan Merah)


Pada musim panas 2001, setidaknya 50 ton partikel merah jatuh di Kerala, India dan  terus berlangsung selama hampir dua bulan bersama hujan. Ternyata benda merah berkarat ini termasuk partikel dari badai debu dan sel-sel biologis yang berasal dari luar angkasa (bakteri sejenis itu mksdnya). 

Dalam edisi bulan April jurnal Astrophysics and Space Science, ilmuwan dari Mahatma Gandhi University melaporkan bahwa partikel memiliki penampilan sel-sel biologis, dapat bereproduksi di suhu mendesis, dan tidak memiliki kesamaan dengan partikel debu.



6. Planet Popsicle (planet es)


Pluto yang sekarang tidak di anggap planet ke 9 dalam tata surya ini memiliki fakta bahwa sinar matahari yang di dapat pluto di bandingkan bumi adalah sekitar 1:1000 tahun dan menyebabkan planet ini terdiri dari es beku yang terdiri dari nitrogen, metana dan karbon dioksida dengan suhu berkisar antara minus 387 hingga minus 369 Fahrenheit (40-50 derajat Kelvin).



5. Windy World (Dunia Angin)


Di Neptunus ditemukan gemuruh angin yang bertiup lebih banyak dan kuat daripada yang ada di Bumi, mencapai 1.500 mph (2.414 kph). Seiring dengan rotasi planet yang cepat (sekitar 16 jam) sehingga menyebabkan konveksi panas-dingin yang cepat juga, lalu dapat mempengaruhi kecepatan angin dan menciptakan kecepatan yang melebihi kecepatan angin di bumi



4. Freeze Frame(rangka es)




Suhu di Uranus bisa mencapai di bawah minus 300 derajat Fahrenheit (89 Kelvin). Uranus memiliki rotasi 17 jam namun revolusi yang mencapai 84 tahun menyebabkan musim (ekstrim) akan lama berganti. Kadang-kadang kondisinya bisa begitu dingin sehingga gas metana di atmosfer mengembun menjadi metana kristal-awan.



3. Close Encounter (Tabrakan Badai Terbesar)


Dua bintik bulatan di planet jupiter diatas adalah badai yang sedang mengamuk di planet tersebut. Dari ukuran badainya saja dapat kita ketahui. Yang besar dinamakan the great Red Spot, badai yang lebih dari dua kali lipat lebar Bumi dengan 350-mph ((563 kph) angin dan yang kecil (badai) di namakan Red Jr. 

Walaupun tidak sepenuhnya dipahami, para ilmuwan berpikir warna merah berkorelasi dengan intensitas badai-angin lalu membangkitkan senyawa kimia dari bawah awan dan mengangkat mereka ke tempat yang tinggi, ditambah sinar ultraviolet sehingga menghasilkan rona bata.



2. Dust Buster (Pelebur Debu)


Mars diketahui telah menghempaskan badai debu yang melanda seluruh belahan mars. Debu berwarna karat ini dapat tertiup dengan kecepatan 60-100 mph (97-161 kilometer) per jam, yang berlangsung selama berminggu-minggu. 

Begitu dimulai, kabut tak tertembus ini dapat menyelimuti lebih dari separuh planet, meningkatkan suhu 30 derajat Celcius di belahan mars.



1.Iron rain (Hujan Besi)

Disebut "bintang gagal", planet brown dwarf ini adalah planet yang baru ditemukan di tata surya kita. Warna cokelat menandakan bahwa planet ini memiliki unsur ferum (besi) yang tinggi. 

Planet ini memiliki badai seperti yang ada di jupiter dan menghempaskan besi-besi ke permukaan nya. Brown dwarf ini semakin dingin dari waktu ke waktu, molekul gas mengembun menjadi cairan besi-besi awan dan hujan. 

Dengan pendinginan lebih lanjut, badai besar menyapu menjauh awan, membiarkan cahaya inframerah terang tersebar ke luar angkasa.

Sumber :
www.kaskus.us
READ MORE - 10 Cuaca Paling Ekstrim di Tata Surya

Prehistoric Time Line, Evolusi Kehidupan di Bumi Dari Awal Sampai Saat Ini

Bumi terbentuk sekitar 4.600.000.000 tahun yang lalu, ketika tata surya kita mulai terbentuk di sekitar matahari. Terlahir dari sebuah bintang yang meledak yang bernama supernova.


Bintang yang baru mengumpulkan pusaran debu dan gas disekitarnya. Ketika matahari mulai memanas, materi yang mengorbitnya mulai terakumulasi, saling bertubrukan untuk membentuk protoplanet dengan tarikan gravitasi.



Batu tertua di dunia terbentuk


Struktur batu tertua di dunia yang telah diketahui, berasal dari potongan dari kerak bumi yang tercipta ketika lahar cair muncul dari patahan di bawah laut. Ditemukan di greenland bagian barat, formasi ini telah berumur 3.8 miliyar tahun yang lalu. Formasi batu kuno yang sama juga telah diidentifikasi di canada dan australia. Di australia bahkan berumur 4.4 miliyar tahun.



Oksigen Mulai Banyak


Dahulu bumi adalah tempat berbahaya untuk ditinggali sampai akhirnya jumlah oksigen mulai bertambah sekitar 2.5 miliyar tahun yang lalu. Udara yang bisa dihirup ini diciptakan oleh cyanobakteria, yang hidup di laut. Bakteri ini melakukan fotosintesis yang hasil akhirnya adalah oksigen. Sehingga terbentuk pelindung ozon yang melindungi bumi dari radiasi sinar matahari.



Cambrian Era (570.000.000 y.a - 500.000.000 y.a)

Moluska Bercangkang Keras Muncul


Moluska bercangkang ditemukan dalam bentuk fosil yang berumur 545 juta tahun. Asal mula dan awal evolusi dalam grup ini belum diketahui. Fosil pertama ini berupa manoplacophorans, nenek moyang dari kebanyakan moluska saat ini.


Vertebrata pertama muncul


Vertebrata (makhluk bertulang belakang) pertama adalah ikan tanpa rahang yang bernama agnathans. Vertebrata tertua ditemukan di 1990 yang berumur 530 juta tahun di china. Dimana para ilmuwan menemukan 2 tipe ikan tanpa rahang, yang dinamai haikouichthys dan myllokunmingia. Agnathan ini menonjol di lautan sampai akhirnya digantikan oleh ikan yang berahang.


Ikan Berkartilago Pertama Berevolusi


Nenek moyang hiu mulai berenang di laut sekitar 450 juta tahun yang lalu.  Dinamakan ikan kartilago karena rangka mereka terbuat dari kartilago bukan tulang.  Cladoselache, salah satu fosil hiu, tumbuh sampai 2 meter panjangnya. Cladoselache, mempunyai rahang yang panjang dan gigi yang halus.



Silurian Era (435.000.000 y.a - 410.000.000 y.a)

Laba-laba dan Kalajengking Menuju Pantai

Kita tahu mereka sekarang di darat, tapi arachnid grup yang di dalamnya termasuk kalajengking dan laba-laba awalnya hidup di laut. Kalajengking diperkirakan sebagai arachnid tertua, dan sudah terlihat sejak 430 juta tahun yang lalu.


Tanaman mulai tumbuh

Tanaman mulai tumbuh sejak 430 juta tahun yang lalu. Masa transisi dari tanaman laut ke darat merupakan tantangan evolusi yang sulit. Mereka menggunakan sistem vascular seperti tisu berbentuk tabung untuk mentransfer air dan nutrisi ke darat.



Devonian (410.000.000 y.a - 360.000.000 y.a)

Amfibi muncul dari air

Amfibi mulai keluar dari air sekitar 370 juta tahun yang lalu. Mereka berevolusi dari ikan yang menghirup udara yang berjalan di perairan yang dangkal, memilki sirip mirip dahan. Amfibi kuno, seperti elginerpeton, punya sirip ekor dan bernafas melalui paru-paru sederhana dan kulitnya.


Terbentuknya super kontinen

Dahulunya pada masa carboniferous, benua-benua berkumpul jadi 1 yang kita sebut pangaea, benua ini terbentuk dari penggabungan 2 benua besar, gondwana dibelahan bumi bagian selatan dan euramerica yang merupakan gabungan amerika utara dan eropa utara. Gabungan gondwana dan euramerica ini membentuk pegunungan appalachian di amerika utara bagian timur.



Carboniferous Era (360.000.000 y.a - 290.000.000 y.a)

Hutan rawa pembentuk batubara mulai berkembang

Hutan ini mempunyai ruangan yang cukup untuk tumbuh karena ketinggian permukaan air rendah. Lycopods menghasilkan bahan mentah untuk bahan bakar fosil di amerika. Batubara banyak ditemukan di amerika utara, eropa, dan sebagian asia (contohnya di indonesia) - semuanya tercipta pada zaman carboniferous.


Reptil pertama mulai terlihat

Reptil berevolusi dari amfibi sekitar 300 juta tahun yang lalu. Yang diketahui bernama anapsids, yang bentuknya menyerupai kadal modern. Kemudian reptile berevolusi secara signifikan di bagian tengkorak, membuat mereka lebih ringan dan memiliki otot rahang. Anapsids ditemukan terjebak di dalam pohon carboniferous di canada



Permian Era (290.000.000 y.a - 248.000.000 y.a)

Reptile menguasai dunia

Munculnya super kontinen (pangea), menghasilkan sebuah lingkungan hidup yang kurang bersahabat, luas, dan gersang yang memiliki temperatur ekstrim. Reptile adalah makhluk yang dapat beradaptasi dengan baik dalam lingkungan ini.


Bumi mengalami kepunahan terbesar

Masa permian pernah mengalami masa kepunahan, sekitar 95% makhluk laut mati dan 70% makhluk darat. Kepunahan ini disebabkan oleh perubahan iklim (global warming), gunung meletus, gas metan yang banyak keluar dari dalam bumi. Dimana kepunahan terparah terjadi sekitar 248 juta tahun yang lalu.



Triassic Era (248.000.000 y.a - 205.000.000 y.a)

Dinosaurus muncul

Zaman dinosaurus diketahui sekitar 240 juta tahun yang lalu, diketahui dari ditemukannya fosil prosauropods di madagaskar. Fosil - fosil lainnya ditemukan di argentina, termasuk pemakan daging, euraptor dan herrerasaurus, yang memiliki panjang 6 meter.


Super kontinen terpisah

Pangea, mulai terpisah di akhir zaman triassic, menjadi gondwana dan laurasia. Prosesnya berawal dari berpisahnya eropa dari afrika, membentuk suatu samudra yang disebut samudra tethys. Benua - benua terpisah membentuk lautan baru yang menjadi “biological barrier” yang membuat masing-masing benua mengembangkan tanaman dan hewannya sendiri-sendiri.


Hewan kecil berbulu mulai terlihat

Mamalia muncul langsung dari nenek moyangnya, therapsid yang memang menyerupai mamalia. Ada sedikit terapsid yang berhasil bertahan hidup dari kepunahan masal masa premian, termasuk hewan kecil yang tinggal di dalam tanah, memiliki darah hangat dan tertutup bulu.



Jurassic Era (205.000.000 y.a - 138.000.000 y.a)

Dinosaurus mendominasi bumi

Hewan yang dapat menguasai bumi selama hampir 150 juta tahun mulai mendominasi dari masa jurassic ini. Dimana tubuh mereka bertambah besar, contohnya dinosaurus pemakan tanaman, sauropod. Yang berleher panjang dan bisa tumbuh sampai sepanjang 6 meter.


Burung mulai terbang

Munculnya hewan bersayap ini diketahui dari fosil yang berada di jerman, yang berumur 150 juta tahun. Fosil menunjukan makhluk ini memiliki bulu sayap tapi masih memiliki ciri-ciri seperti reptile, seperti ekor, cakar dan gigi yang tajam. Hewan ini bernama archaeopteryx (ancient wing)



Cretaceous Era (138.000.000 y.a - 63.000.000 y.a)

Tanaman berbunga mulai mekar

Tanaman bunga yang mekar tercatat dalam fosil yang berumur 125 juta tahun, yang tertua berasal dari China. Tanaman ini diperkirakan sudah ada pada masa jurasic, tapi mulai berkembang pada masa cretaceous, di suhu yang sejuk.


Kepunahan dinosaurus

Di akhir cretaceous, 65 juta tahun lalu. Ditandai dengan punahnya dinosaurus. 50% hewan dan tumbuhan diperkirakan lenyap. Perubahan iklim diperkirakan menjadi penyebab secara tak langsung dan tubrukan meteor mungkin menjadi penyebab utama.



Paleogene Era (63.000.000 y.a - 24.000.000 y.a)

Mammalia mengisi tempat dinosaurus

Ketika dinosaurus tiba-tiba menghilang, mamalia menggantikan tempatnya. Mereka menyebar secara cepat. Peristiwa perkembangan mamalia ini dimulai sekitar 60 juta tahun yang lalu. Termasuk munculnya keluarga mamalia pemburu seperti kucing dan anjing.


Primata terlihat di pohon

Sebenarnya kapan primate mulai terlihat belum pasti, menurut fosil yang ditemukan mereka telah muncul sekitar 55 juta tahun yang lalu. Termasuk primate yang mirip tarsier yang ditemukan di amerika utara, asia dan eropa, mereka kecil, cerdas, berbulu dan tinggal di pohon



Neogene Era (24.000.000 y.a - 2.000.000 y.a)

Manusia purba mulai muncul

Diperkirakan terjadi pada 6 - 8 juta tahun yang lalu, manusia purba tertua yang telah ditemukan berumur 5.8 juta tahun yang lalu. Manusia purba ini memliki ciri hampir sama dengan simpanse, seperti rahang, bahu, dan lengan, bedanya mereka berjalan tegak.



Quarternary Era (2.000.000 y.a - now)

Dunia memasuki zaman es

1.8 juta tahun terakhir, sejarah bumi didominasi oleh zaman es dengan intensitas yang berbeda-beda, kebanyakan berakhir sekitar 10.000 tahun yang lalu. Masa paling dingin ini berakhir ketika es di bumi mulai mencair, yang menyebabkan punahnya mammoth dan badak berbulu.


Manusia modern lahir

Homo sapiens muncul sekitar 190.000 tahun yang lalu di afrika timur, manusia modern awal kemudian pergi sampai australia dan amerika selatan, yang nantinya menciptakan rasnya sendiri-sendiri.


Sumber :
www.kaskus.us
READ MORE - Prehistoric Time Line, Evolusi Kehidupan di Bumi Dari Awal Sampai Saat Ini