Baca Juga

Kamis, 27 Januari 2011

Ilmuwan Kembangkan Pembungkus Makanan dari Bakteri

Headline

Jakarta - Ilmuwan mengembangkan teknik pelapis kertas dengan nanopartikel perak. Ini merupakan kombinasi bakteri kertas yang cocok sebagai bahan kemasan makanan.

Bahan perak sebelumnya banyak digunakan untuk melawan bakteri dan nanopartikel. Perak sudah sering digunakan dalam industri tekstil, serat, plastik dan logam nuntuk aplikasi biomedis.

Teknologi ini digunakan untuk melapisi luka dan kateter tahan mikroba. Materi ini juga dapat dipakai sebagai bahan penghilang bau pada kaos kaki.

Awalnya, ilmuwan belum mampu mengumpulkan partikel perak yang setara satu per 50 ribu ketipisan rambut manusia, dalam sebuah lapisan kertas biasa. Namun, materi terbaru yang menggunakan ultrasound atau gelombang suara berfrekuensi tinggi, mampu menahan partikel itu di dalam kertas.

Teknik yang diperkenalkan tim ilmuwan yang dipimpin Aharon Gedanken dari Bar-Ilan University, Israel, ini dipublikasikan di jurnal Langmur yang diterbitkan American Chemical Society.

Dalam uji coba laboratorium, lapisan yang disebut sebagai kertas pembunuh ini berhasil mengumpulkan aktivitas bakteri yang mampu melawan E. Coli dan S. Aureus, dua unsur penyebab keberadaan bakteri makanan.

"Aplikasi menakjubkan ini menunjukkan kemampuan untuk kemasan bahan makanan yang berlangsung lama di rak," tulis ilmuwan.

Jika ini benar dimanfaatkan, produk makanan akan dilapisi kertas berisi nanopartikel perak yang terdiri dari berbagai bakteri yang mampu menahan bakteri perusak kualitas makanan.

Selain kemasan makanan, metode pelapis itu dapat digunakan untuk membuat properti tahan air.

Sumber : Berbagai Sumber

READ MORE - Ilmuwan Kembangkan Pembungkus Makanan dari Bakteri

Dasyatnya Letusan Gunung Toba

Jika melihat Danau Toba dengan Pulau Samosir di tengahnya itu, siapa yang menyangka bahwa keindahan itu dihasilkan dari letusan Gunung Toba ribuan tahun yang lalu?

Diperkirakan telah 74 ribu tahun berlalu sejak Gunung Toba terakhir meletus, menimbulkan malapetaka dahsyat dan meledakkan badannya sehingga menciptakan kaldera sepanjang 100 kilometer dengan luas 30 kilometer.

Adalah Reinout Willem van Bemmelen, geolog Belanda yang pertama kali mencetuskan teori letusan itu saat melakukan penelitian di Danau Toba pada 1939. Ia terkejut menemukan fakta bahwa Danau Toba dikelilingi material batu apung yang ditinggalkan oleh letusan gunung.

Dalam penelitiannya selama bertahun-tahun, Van Bemmelen menemukan lapisan ignimbrite di seluruh permukaan batu danau. Lapisan tersebut berupa batuan vulkanik berbentuk debu dan material vulkanik lain yang mengandung senyawa feldspar-kuarsa. Senyawa ini hanya dihasilkan oleh gunung api.

Teori Van Bemmelen semula kontroversial dan amat sulit dipercaya. Namun, temuannya merangsang penelitian lebih lanjut para geolog di seluruh dunia. Penelitian diarahkan pada debu riolit dan batuan apung.

Hasilnya menakjubkan: ditemukan material halus dengan komposisimenyerupai granit itu pada material sedimen yang diambil dari dasar Teluk Benggala. Menyusul kemudian ditemukannya debu riolit yang seusia dengan batuan Toba, terletak jauh di Malaysia dan India.

Teori Lempeng Tektonik

Danau Toba yang semula berupa gunung api, bersesuaian dengan teori mengenai lempeng tektonik dunia. Tiga lempeng tektonik bertemu di wilayah Indonesia dan telah dimengerti potensi bencananya. Tiga lempeng itu adalah lempeng Eurasia, lempeng Indo-Australia, dan Lempeng Pasifik.

Lempeng-lempeng tersebut terus bergerak sepanjang waktu dengankecepatan yang tidak terdeteksi mata kasat. Lempeng Indo-Australia mendesak lempeng Eurasia dengan kecepatan 7 sentimeter per tahun dengan gerakan konstan. Sedangkan lempeng Pasifik mendesak lempeng Eurasia secara relatif, mencapai kecepatan 11 sentimeter per tahun.

Tumbukan lempeng tersebut menimbulkan fenomena subduksi, atau penyusupan lapisan sedimen ke bawah lempeng benua, dan memunculkan rangkaian gunung api, membentuk cincin dengan potensi ledakan dahsyat dan nyaris tidak terprediksi. Gunung Toba adalah salah satu bentuk reaksi subduksi.

Raksasa Supervolcano

Gunung Toba dikelompokkan ke dalam gunung api jenis Supervolcano. Jenis ini sangat jarang ditemukan di dunia. Supervolcano memiliki kantung magma yang sangat besar dan luas, sehingga letusannya menghasilkan kaldera luas pula.

Penelitian ilmiah tentang Gunung Toba terus berlangsung hingga saat ini, untuk menggambarkan dengan jelas mengenai raksasa mengerikan yang tengah tertidur pulas di tengah Pulau Sumatra itu.

Jika sebelumnya hanya disebutkan sebuah teori ledakan dahsyat pada 74 ributahun silam, penelitian terbaru mengetengahkan kemungkinan berdasarkan fakta-fakta geologis bahwa Gunung Toba pernah beberapa kali meletus, sedikitnya tiga kali.

Ledakan pertama diperkirakan berlangsung 840 ribu tahun silam, dan ledakan terakhir seperti disebutkan di atas. Ledakan terakhir adalah yang paling dahsyat bukan saja melontarkan seluruh badan gunung ke udara, bahkan menciptakan kaldera luas dan menjadi danau dengan sisa sedikit pulau yang mencuat di tengahnya, itulah Pulau Samosir.

Letusan Megakolosal

Pada letusan terakhirnya, diperkirakan Gunung Toba meletus selama 9-14 hari berturut-turut. Material vulkanik yang dimuntahkan mencapai 2.800 km kubik, termasuk debu vulkanik beracun dengan tingkat sangat asam dan berberlerang sangat tinggi.

Material vulkanik terlontar menyobek atmosfer hingga ketinggian 37 kilometer. Lalu, menyebar ke seluruh penjuru dan mengakibatkan kegelapan total selama beminggu-minggu. Bahkan, lapisan debu yang tersimpan di awan menyebabkan dunia remang-remang selama hampir 10 tahun karena sinar matahari tidak sempurna mencapai bumi.

Malapetaka yang ditimbulkan nyaris tak terbayangkan. Kehidupan di sekitar Toba nyaris musnah. Manusia dan binatang tak mampu bertahan dari gempuran lava. Tumbuh-tumbuhan tak mampu berfotosintesis karena matahari menghilang dari langit. Suhu bumi menyusut 1-5⁰ C selama beberapa tahun.

Letusan itu mengakibatkan perubahan iklim global. Suhu bumi menurun drastis dan dunia menggigil mengakibatkan kematian yang tak terbayangkan. Ekosistem di bumi pun berubah. Belerang asam meracuni air tawar dan memusnahkan padang rumput. Populasi manusia berkurang drastis.

Toba Sekarang

Raksasa Toba rupanya hanya bangun sesaat dan kemudian kembali ke tidurnya yang lelap. Gunung api itu tidak mati. Masih ada jejak-jejak kehidupannya yang dideteksi dari titik mata air panas di kawasan Pusukbukit, di bagian barat Danau Toba.

Pusukbukit diyakini merupakan bagian dari Gunung Toba. Bentuknya serupa kerucut kecil vulkanik, dan mendapatkan magma dari dapur magma yang terbenam 50 km di bawah permukaan tanah.

Berdasarkan penelitian, Pulau Samosir mengalami kenaikan gradual dengan munculnya lapisan-lapisan sedimen. Kenaikan ini memberi indikasi adanya proses pengisian magma dari dapur magma sehingga mengangkat Pulau Samosir secara perlahan-lahan.

Jadi, apakah Gunung Toba akan bangun kembali? Sangat mungkin! Tapi, melihat prosesnya, hal itu baru akan terjadi dalam waktu yang sangat lama. Para geolog memperkirakan letusan Toba baru akan terjadi sekitar 400 ribu – 600 ribu tahun lagi. Memang tak perlu dikhawatirkan di masa sekarang, tapi setidaknya harus tetap waspada.

 

Sumber : Berbagai Sumber

READ MORE - Dasyatnya Letusan Gunung Toba

8 Gunung Teraktif Di Indonesia

1.Gunung Kelud

Sejak abad ke-15, Gunung Kelut telah memakan korban lebih dari 15.000 jiwa. Letusan gunung ini pada tahun 1586 merenggut korban lebih dari 10.000 jiwa. letusan pada tahun 1919 memakan korban hingga ribuan jiwa akibat banjir lahar dingin menyapu pemukiman penduduk. Pada abad ke-20, Gunung Kelut tercatat meletus pada tahun 1901, 1919 (1 Mei), 1951, 1966, dan 1990. Tahun 2007 gunung ini kembali meningkat aktivitasnya. Pola ini membawa para ahli gunung api pada siklus 15 tahunan bagi letusan gunung ini.
2. Gunung Merapi

Gunung Merapi adalah yang termuda dalam kumpulan gunung berapi di bagian selatan Pulau Jawa.Letusan-letusan kecil terjadi tiap 2-3 tahun, dan yang lebih besar sekitar 10-15 tahun sekali. Letusan-letusan Merapi yang dampaknya besar antara lain di tahun 1006, 1786, 1822, 1872, dan 1930. Letusan besar pada tahun 1006 membuat seluruh bagian tengah Pulau Jawa diselubungi abu. Diperkirakan, letusan tersebut menyebabkan kerajaan Mataram Kuno harus berpindah ke Jawa Timur. Letusannya di tahun 1930 menghancurkan 13 desa dan menewaskan 1400 orang.
3. Gunung Galunggung
Gunung Galunggung tercatat pernah meletus pada tahun 1882 (VEI=5). Tanda-tanda awal letusan diketahui pada bulan Juli 1822, di mana air Cikunir menjadi keruh dan berlumpur. Hasil pemeriksaan kawah menunjukkan bahwa air keruh tersebut panas dan kadang muncul kolom asap dari dalam kawah. Kemudian pada tanggal 8 Oktober s.d. 12 Oktober, letusan menghasilkan hujan pasir kemerahan yang sangat panas, abu halus, awan panas, serta lahar. Aliran lahar bergerak ke arah tenggara mengikuti aliran-aliran sungai. Letusan ini menewaskan 4.011 jiwa dan menghancurkan 114 desa, dengan kerusakan lahan ke arah timur dan selatan sejauh 40 km dari puncak gunung.
4. Gunung Agung

Gunung Agung terakhir meletus pada 1963-64 dan masih aktif, dengan sebuah kawah besar dan sangat dalam yang kadang-kadang mengeluarkan asap dan abu.Pada tanggal 18 Februari 1963, penduduk setempat mendengar ledakan keras dan melihat awan naik dari kawah Gunung Agung. Pada tanggal 17 Maret, gunung berapi meletus, mengirimkan puing-puing 8-10 km ke udara dan menghasilkan aliran piroklastik yang besar. Arus ini banyak menghancurkan desa-desa, menewaskan sekitar 1500 orang. Sebuah letusan kedua pada 16 Mei menyebabkan aliran awan panas yang menewaskan 200 penduduk lain.
5. Gunung Krakatau

Krakatau adalah kepulauan vulkanik yang masih aktif dan berada di Selat Sunda antara pulau Jawa dan Sumatra. Nama ini pernah disematkan pada satu puncak gunung berapi di sana (Gunung Krakatau) yang sirna karena letusannya sendiri pada tanggal 26-27 Agustus 1883. Letusan itu sangat dahsyat; awan panas dan tsunami yang diakibatkannya menewaskan sekitar 36.000 jiwa. Sampai sebelum tanggal 26 Desember 2004, tsunami ini adalah yang terdahsyat di kawasan Samudera Hindia. Suara letusan itu terdengar sampai di Alice Springs, Australia dan Pulau Rodrigues dekat Afrika, 4.653 kilometer. Daya ledaknya diperkirakan mencapai 30.000 kali bom atom yang diledakkan di Hiroshima dan Nagasaki di akhir Perang Dunia II. Letusan Krakatau menyebabkan perubahan iklim global. Dunia sempat gelap selama dua setengah hari akibat debu vulkanis yang menutupi atmosfer. Matahari bersinar redup sampai setahun berikutnya. Hamburan debu tampak di langit Norwegia hingga New York. Tercatat bahwa letusan Gunung Krakatau adalah bencana besar pertama di dunia setelah penemuan telegraf bawah laut.
6. Gunung Maninjau

Kaldera Maninjau dibentuk oleh letusan gunung berapi diperkirakan terjadi sekitar 52.000 tahun yang lalu. Simpanan dari letusan telah ditemukan dalam distribusi radial sekitar Maninjau membentang hingga 50 km di sebelah timur, 75 km di tenggara, dan barat ke pantai ini. Deposito diperkirakan akan didistribusikan lebih dari 8.500 km ² dan memiliki volume 220-250 km ³. kaldera ini memiliki panjang 20 km dan lebar 8 km.
7. Gunung Tambora

Aktivitas vulkanik gunung berapi ini mencapai puncaknya pada bulan April tahun 1815 ketika meletus dalam skala tujuh pada Volcanic Explosivity Index. Letusan tersebut menjadi letusan tebesar sejak letusan danau Taupo pada tahun 181. Letusan gunung ini terdengar hingga pulau Sumatra (lebih dari 2.000 km). Abu vulkanik jatuh di Kalimantan, Sulawesi, Jawa dan Maluku. Letusan gunung ini menyebabkan kematian hingga tidak kurang dari 71.000 orang dengan 11.000—12.000 di antaranya terbunuh secara langsung akibat dari letusan tersebut. Bahkan beberapa peneliti memperkirakan sampai 92.000 orang terbunuh, Lebih dari itu, letusan gunung ini menyebabkan perubahan iklim dunia. Satu tahun berikutnya (1816) sering disebut sebagai Tahun tanpa musim panas karena perubahan drastis dari cuaca Amerika Utara dan Eropa karena debu yang dihasilkan dari letusan Tambora ini.
8. Gunung Toba (Supervolcano)

Merupakan letusan gunung berapi yang paling dahsyat yang pernah diketahui di planet Bumi ini. Dan hampir memusnahkan generasi umat manusia di planet Bumi. 73.000 tahun yang lalu letusan dari supervolcano di Indonesia hampir memusnahkan seluruh umat manusia. Hanya sedikit yang selamat. Dan setelah Tsunami Gunung Berapi Di Indonesia menjadi Aktif sekali lagi dan mengancam umat manusia.
Letusan ini tidak bisa dibandingkan dengan apapun yang telah dialami di bumi sejak masa dimana manusia bisa berjalan tegak. Dibandingkan dengan SuperVolcano Toba, bahkan krakatau yang menyebabkan sepuluh ribu korban jiwa pada 1883 hanyalah sebuah sendawa kecil.
Seperti yang telah diketahui oleh para ilmuwan, toba hampir memusnahkan umat manusia 73.000 tahun yang lalu.Bersamaan dengan gelombang besar tsunami, ada 2.800 kilometer kubik abu yang dikeluarkan, yang menyebar ke seluruh atmosfir bumi kita.
Walaupun Toba sampai saat ini masih tertidur jauh dan aman dibawah sebuah laut besar yang menyandang nama sama di Sumatera Utara. banyak orang yang takut apabila suatu saat Gunung Berapi aktif di Talang yang berada 300 kilometer di selatan Toba meletus, bisa membangunkan Raksasa yang tertidur.

 

Sumber : Berbagai Sumber

READ MORE - 8 Gunung Teraktif Di Indonesia