Baca Juga

Kamis, 24 Februari 2011

Akses Internet Di Libya Mati Total

Penyedia layanan internet utama di Libya, General Post and Telecommunications Company, mulai mematikan akses internet. Langkah tersebut dilakukan sejak Sabtu, pukul 1:18 pagi, waktu setempat.

“Hari ini mereka mulai mematikan akses dan kini sebagian besar kawasan sudah terputus dari dunia maya,” kata Earl Zmijewski, General Manager Renesys, perusahaan pemantau internet, seperti dikutip dari ComputerWorld, 19 Februari 2011.

Zimjewski menyebutkan, Libya tampaknya mengambil contoh dari Mesir yang memutus seluruh akses internet pada akhir Januari saat gelombang protes membanjiri jalan-jalan di negeri tersebut menuntut reformasi politik.

Serupa dengan Mesir, sejak pekan ini ribuan warga Libya juga telah turun ke jalan di Benghazi, kota kedua terbesar di negeri itu. Menurut data Amnesty International, demonstrasi di sana telah memakan 46 korban jiwa dalam tiga hari terakhir.

Menurut sejumlah pengamat, langkah pemerintah untuk memutuskan akses internet diambil karena semakin meningkatnya suhu politik di Libya. Ini mempersulit masyarakat yang butuh untuk mengetahui situasi yang terjadi di lapangan.

Sebagai informasi, Libya lebih kecil dibandingkan dengan Mesir. Dengan hanya sedikit jaringan yang perlu diawasi, pemutusan akses internet di negeri tersebut juga lebih mudah untuk dilakukan.


READ MORE - Akses Internet Di Libya Mati Total

Pemerintah Bikin Enam Program "Pro Rakyat"


Pemerintah merencanakan program-program pro rakyat dan perlindungan sosial. Program ini merupakan hasil rapat koordinasi bidang ekonomi selama 2 hari kemarin di Istana Bogor.

Hal itu disampaikan Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Hatta Rajasa, usai Rapat Koordinasi di Gedung Bappenas, Jakarta Pusat, Rabu malam 23 Februari 2011.

Hatta menyatakan ada enam program hasil Rapat Koordinasi yang dipimpin oleh Presiden tersebut.

1. Perumahan murah untuk rakyat
2. Program air bersih untuk rakyat
3. Kendaraan angkutan murah pedesaan
4. Listrik murah dan efisien beserta elektrifikasinya
5. Program peningkatan kehidupan masyrakat nelayan
6. Program peningkatan kehidupan masyarakat di daerah pinggir kota

Lebih lanjut ia menerangkan, untuk rumah murah didesain yang harganya berkisar Rp 20-25 juta tipe 36. Nantinya, rumah ini diperuntukkan bagi masyarakat yang berpenghasilan sangat rendah, yang di bawah Rp1,2 juta. "Tahun 2011 disusun blue print-nya. Tapi baru di APBN 2012 dapat dimasukkan," kata Hatta.

Kepala PPN/Bappenas, Armida Alisjahbana, menyatakan dari segi pendanaan berasal dari penghematan APBN sebesar 10 persen.
Dana dari efisiensi ini bisa digunakan untuk mempertajam program pro rakyat yang sudah ada seperti program air bersih, program untuk nelayan, dan program masyarakat miskin perkotaan.
READ MORE - Pemerintah Bikin Enam Program "Pro Rakyat"

Rabu, 23 Februari 2011

Proyek "Pepesan Kosong" Jakarta, Salah Siapa?


Presiden Susilo Bambang Yudhoyono untuk pertama kalinya menyentil dengan keras soal ketidakberesan pembangunan infrastruktur, terutama di Jakarta.
Presiden menyesali bahwa pembangunan yang dilaksanakan tak sesuai rencana. Banyak sekali komitmen yang telah dijanjikan, baik dari kementerian ataupun swasta, namun dalam pelaksanaannya tidak berjalan. SBY mencontohkan banyaknya pembangunan infrastruktur di provinsi DKI Jakarta yang mangkrak dan tak jelas ujungnya.
"Saya kenyang dengan banyak sekali komitmen, seperti membangun infrastruktur di DKI," kata Presiden saat memimpin Rapat Kerja Pemerintah dan Gubernur di Istana Bogor, Jawa Barat, 21 Februari 2011.  "Semuanya pepesan kosong."
Lambannya pemerintah menyelesaikan pembangunan infrastruktur juga sudah banyak dikeluhkan para pengusaha. Pengusaha Sofjan Wanandi misalnya, menyatakan pemerintah sudah terlalu banyak menebar janji namun tidak ada yang ditepati.  "Janji membangun infrastruktur untuk mendukung pertumbuhan. Mana hasilnya sampai saat ini infrastruktur ya segitu-segitu saja."
***
Meski terang-terangan disebut DKI Jakarta, Gubernur Fauzi Bowo, yang saat kampanye mengklaim sebagai ahlinya Jakarta, justru tak merasa kritik itu diarahkan kepadanya.  "Presiden tidak menyebut Pemda DKI, tapi Jakarta," kata Fauzi Bowo di sela Rapat Kerja Kabinet dengan Gubernur di Istana Bogor, Selasa, 22 Februari 2011.

Karena tak menyebut nama Pemda DKI Jakarta itulah, Foke, panggilan akrab Fauzi, tak merasa disentil. Mandeknya sejumlah proyek infrastruktur Ibukota merupakan kesalahan bersama.

Namun, Foke mengaku mangkraknya sejumlah proyek infrastruktur karena kesalahan memilih investor. Selama ini, banyak komitmen investasi yang kemudian tidak ditindaklanjuti. "Karena itu kami akan lebih selektif," katanya.

Beberapa proyek-proyek infrastruktur Jakarta yang lama tak ditindaklanjuti antara lain sebagai berikut:
Pertama, Jalan Tol Bekasi - Cawang - Kampung Melayu (Becakayu) di Jakarta Timur. Tiang-tiang tol sepanjang Kali Malang masih saja mangkrak dimakan lumut. Foke mengakui itu salah satu contoh proyek mangkrak yang berkaitan dengan tingkat kepercayaan investor.
Kedua, Proyek Monorel juga bernasib mirip. Tiang-tiangnya sampai kini masih nganggur di sepanjang Jalan Rasuna Said dan Senayan.  Proyek yang lama tertunda ini juga karena salah memilih investor. "Ini terkait pihak swasta yang ternyata tidak bisa memenuhi kewajiban," ujarnya.

Proyek ini semula diperkirakan menelan anggaran Rp5,4 triliun. Namun, tahun ini, pemerintah berencana akan membereskan soal pendanaan, sekaligus memulai tender pembangunan.

Monorel akan dibangun dalam dua jalur yaitu green line dan blue line. Jalur green linemembentang sepanjang 14,2 km melintasi Semangi-Kuningan-Semanggi yang membutuhkan biaya sedikitnya US$350 juta atau sekitar Rp3,1 triliun.

Adapun jalur blue line sepanjang 12,2 km melintasi Kampung Melayu-Casablanca-Tanah Abang-Roxy. Jalur ini diperkirakan menelan biaya US$250 juta atau Rp2,2 triliun.

Walau demikian, Foke membantah ada keterlambatan dalam proyek Mass Rapid Transit (MRT). "Kalau ada yang tanyakan kenapa MRT lambat, ini berjalan sesuai schedule. Tidak ada keterlambatan. Bisa dilihat di website," tutur dia.

MRT merupakan salah satu proyek prestisius transportasi yang akan meliputi 13 stasiun perhentian, dengan nilai investasi sekitar Rp11 triliun.
Tujuh stasiun berada di permukaan tanah yakni Lebak Bulus, Fatmawati, Cipete Raya, H. Nawi, Blok A, Blok M, dan Sisingamangaraja. Sisanya, di bawah tanah (subway) terletak di Masjid Al-Azhar, Istora Senayan, Bendungan Hilir, Setiabudi, Dukuh Atas, dan Bundaran HI.

Pembangunan jaringan MRT ini terbagi dalam dua koridor. Koridor I merupakan jalur Utara-Selatan, terbentang mulai dari Lebak Bulus hingga Kampung Bandan. Adapun Koridor II merupakan jalur Timur-Barat, terbentang dari Cikarang hingga Balaraja.

Foke beralasan, mampetnya program pembangunan di Jakarta juga disebabkan minimnya anggaran. Karena itu, Pemerintah Provinsi DKI harus mengandalkan investasi dan pengelolaan swasta dalam sejumlah program pembangunan.

***
Selasa 22 Februari, Presiden kembali menegaskan masalah tersebut.
SBY meminta komitmen investasi sejumlah proyek yang tak berjalan segera dibatalkan. Pemprov DKI diminta mencari investor baru yang benar-benar sanggup, bertanggung jawab, dan kredibel menangani proyek Jakarta.

Pengamat perkotaan, Yayat Supriyatna, mengatakan bahwa carut-marut proyek transportasi Jakarta terjadi lantaran pemerintah daerah lebih banyak membuat wacana publik, tanpa mengimbangi implementasi yang baik. "Rencananya banyak, realisasinya sedikit," katanya, saat berbincang dengan VIVAnews.com.
Ia mencontohkan pembangunan jalan tol yang terhambat. Semua itu disebabkan tidak adanya keberanian pemerintah mengambil keputusan. Dalam pembebasan lahan, kata Yayat, semua saling tunggu. Tak ada yang berani bertindak.

Persoalan infrastruktur tak lepas dari otoritas pemerintah pusat dan daerah. Dalam kasus Jakarta, seolah tak ada titik temu di antara mereka. Pesan otoritas pusat tak sampai pada pemerintah daerah.
"Seharusnya Presiden menunjuk siapa yang bertanggung jawab di tiap bidangnya," katanya
READ MORE - Proyek "Pepesan Kosong" Jakarta, Salah Siapa?